Minggu, 22 September 2019


Mengenali Apa itu Hipotermia,gejalanya dan Cara Mengatasinya pada saat di gunung

Hipotermia adalah suatu jenis penyakit yang harus diwaspadai oleh para Pendaki Gunung. Suhu udara di atas gunung yang dingin serta kondisi fisik yang letih adalah faktor utama terjadinya Hipotermia.
Hipotermia termasuk salah satu kondisi yang membutuhkan penanganan medis darurat. Kondisi ini terjadi saat temperatur tubuh menurun drastis di bawah suhu normal yang dibutuhkan oleh metabolisme dan fungsi tubuh, yaitu di bawah 35°C.
Penyebab utamanya adalah udara dingin. Misalnya, karena tidak mengenakan pakaian yang tepat saat mendaki gunung, berada terlalu lama di tempat dingin, jatuh ke kolam berisi air yang dingin, atau mengenakan pakaian yang basah.
Mendaki gunung di musim penghujan memang memerlukan perhatian khusus, selain medan yang menjadi licin atau longsor, gejala-gejala hipotermia umumnya kerap terjadi pada pendaki dan berkembang secara perlahan-lahan sehingga sering tidak disadari oleh pengidapnya.
Oleh sebab itu, sesama anggota tim harus saling memperhatikan satu sama lain. Orang yang mengalami hipotermia ringan akan menunjukkan gejala menggigil yang disertai rasa mengantuk atau lemas, pusing, lapar, mual, kulit yang dingin atau pucat, dan napas yang cepat.

Apa yang harus dilakukan jika gejala tersebut muncul?

1. Jangan panik, pantau pernapasan penderita

Saya memperhatikan teman saya yang lebih senior saat ia dengan tenang memberi pertolongan pertama dengan memberikan oxycan sebagai alat bantu nafas, menenangkan pengidap dan tidak membantunya gugup menjadi poin penting.
“Kalau kita sebagai rekan timnya saja ketakutan, bagaimana dia bisa survive”

2. Hindari menggosok tangan pengidap

Menggosok tangan atau kaki pengidap juga sebaiknya dihindari. Gerakan berlebihan dapat memicu serangan jantung. Telapak tangan kita yang digosok, jika sudah hangat, tempelkan ke telinga pengidap atau bagian lainnya yang paling dingin.

3. Lepaskan pakaian pengidap jika basah dan ganti dengan yang kering

Pengidap yang kebetulan wanita, lebih baik dibantu dengan rekan timnya yang wanita juga. Kali ini saya yang membantu pengidap, yang kebetulan wanita. Sementara rekan laki-laki berjaga di luar tenda, memasak air panas.

4. Tutupi tubuh pengidap (terutama bagian perut, leher, dan kepala) dengan selimut atau ekstra jaket agar hangat

Pengidap hipotermia harus memakai pakaian dobel atau jaket ekstra agar suhu tubuhnya kembali normal, di sini kesetiakawanan diuji.
Laki-laki biasanya muncul sebagai pahlawan merelakan jaketnya dan berkaos oblong biasa demi sang wanita agar tidak hipotermia. Padahal mungkin merekapun kedinginan.

5. Berbagi panas tubuh dengan penderita

Misalnya dengan memeluknya secara hati-hati. Kontak langsung dari kulit ke kulit akan lebih efektif.

6. Berikan minuman hangat

Sementara saya dan seorang teman laki-laki sibuk di tenda menghangatkan pengidap, rekan yang lain sudah merebus air panas dan menyodorkan segelas susu jahe hangat. Tetapi, hindari memberi minuman yang mengandung alkohol atau kafein.

7. Kompres penderita dengan botol berisi air hangat

Gunakan botol berisi air hangat untuk mengompres pengidap. Kompres ini sebaiknya diletakkan di leher, perut, atau dada. Jangan meletakkannya di bagian kaki atau tangan karena dapat mendorong darah yang dingin untuk mengalir ke jantung, paru-paru, dan otak.


Jika kalian pendaki sungguhan tingkatkanlah solidaritas dan tenggang rasa terhadap sesama tinggalkan keegoisan anda, karena anda sekalian tidak akan tau apa yang akan terjadi pada diri anda dalam waktu mendatang. Salam Pecinta Alam

Kamis, 19 September 2019

Makna-makna pakaian dan properti kebudayaan yang digunakan saat pelaksanaan pernikahan adat batak toba. 
 1.Pinggan Pasu Panungkunan

Piring adat untuk memulai pembicaraan adat perkawinan Batak yang disampaikan juru bicara (raja parhata) keluarga mempelai wanita, berisi beras, sirih, dan uang 4 lembar.
2.Tunggal Panuluan

Merupakan tongkat pusaka yang biasa dipakai saat Martonggo berdoa untuk memohon berkat kepada Sang Khalik(Tuhan).
3.Ampang Jual Sibuhai-buhai

Merupakan hantaran keluarga dari mempelai lelaki pada saat menjemput mempelai wanita. Didalamnya terdapat makanan adat yang akan dimakan bersama oleh keluarga mempelai wanita dan keluarga mempelai laki-laki (Suhut Bolon) sebelum acara besar adat dimulai.
4.Tandok Boras Sipirnitondi


Merupakan simbol yang dibawa oleh pihak hula-hula (keluarga mempelai perempuan) dalam sistem kekerabatan Dalihan Natolu Batak. Golongan hula-hula adalah golongan yang diberi kedudukan terhormat, saluran berkat kepada keluarga Boru (mempelai laki-laki). Golongan yang lain dalam Dalihan Natolu adalah Dongan Sabutuha dan Boru. Boras sipirnitondi artinya adalah beras restu. Biasanya dibawa oleh penari, ditaruh di atas kepala dalam sebuah wadah dari rajutan jerami.
5.Ulos Hela (Ulos mempelai laki-laki)

Simbol perkawinan Batak yang paling tinggi nilainya. Diselimutkan oleh orangtua mempelai wanita kepada kedua mempelai pada saat acara berlangsung. Saat pemberiannya pun tidak boleh sembarangan. Tangan yang memberikan harus bersentuhan dengan yang diberikan. Sebagai restu dan hangat orangtua kepada keduanya. Ulosnya disatukan tepat ditengah-tengah, di depan kedua mempelai. Pada prosesinya, Ayah yang akan menyelimutkan ulos ini akan berkata-kata dan memberikan wejangan kepada kedua mempelai, menjelaskan makna dari ulos tersebut.
6.Tempat Sirih Bermote

Biasanya, sebelum upacara dimulai, keluarga mempelai wanita menawarkan Sekapur Sirih kepada keluarga mempelai laki-laki.
Pada acara pertunjukkan tersebut, terdapat beberapa tarian yang mengiringi prosesi, diiringi lagu-lagu tradisional. MC pada acara pertunjukkan tradisional tersebut, biasanya sudah dimodifikasi dan dipersingkat. Dalam prosesi adat semacam ini, terlihat betapa melepaskan anak dalam pernikahan adalah hal yang cukup penting. Lewat tari-tarian, prosesi, dan simbol-simbol, terlihat hal tersebut.


Tidak ada ruginya kita mengenal dan mengetahui kebudayaan yang ada di Indonesia ini walau bukan kebudayaan kita sekalipun.
Dengan mengenal kebudayaan yang ada di bangsa kita sendiri, akan lebih menananmkan solidaritas dan integrasi di negara kita ini. Saya Indonesia, anda Indonesia,  kita adalah Indonesia.